Minggu, 14 Oktober 2007

BIO AKUSTIK DALAM KEPERAWATAN

BIOAKUSTIK
by Arwin Lim

A. BUNYI
1. PENDAHULUAN
Suatu perubahan mekanik terhadap zat gas, zat cair atau zat padat sering menimbulkan gelombang bunyi. Gelombang bunyi ini merupakan vibrasi getaran dari molekul zat dan saling beradu satu sama lain namun demikian zat tersebut terkoordinasi menghasilkan gelombang serta mentransmisikan energi bahkan tidak pernah terjadi pemindahan partikel.
Berbicara, tergantung pada substansi yang menjalar apabila suara mencapai tapal batas maka suara tersebut akan terbagi dua yaitu sebagian energi ditransmisikan / diteruskan dan sebagian direfleksikan (dipantulkan).
Suatu penelitian mengenai terjadinya penjalaran bunyi, mendeteksi serta penggunaan bunyi sangat penting untuk mengetahui lebih lanjut akan pengalihan energi mekanik.
Binatang mempergunakan suara untuk memperoleh perubahan informasi dan untuk medeteksi lokasi dari suatu objek. Misalnya ikan lumba-lumba , kelelawar, menggunakan suara untuk mengemudi dan menentukan lokasi makanan apabila cahaya tidak cukup untuk pengamatan. Manusia berusaha menggunakan suara sebagai pengganti cahaya bahkan sinar X. gema dipergunakan pengemudi pada kedalaman air dan pengamatan sedangkan ultrasonic atau frekwensi tinggi bunyi dipergunakan untuk diagnosis dan pengobatan. Bunyi yang berfrekwensi rendah dipergunakan dalam penelitian geofisik.

2. GELOMBANG BUNYI DAN KECEPATAN
Gelombang bunyi timbul akibat terjadi perubahan mekanik pada gas. Zat cair atau gas yang merambat ke depan dengan kecepatan tertentu . Gelombang bunyi ini menjalar secara transversal atau longitudinal, lain dengan cahaya hanya menjalar secara transversal saja.

Pada suatu percobaan, apabila terjadi vibrasi dari suatu bunyi maka akan terjadi suatu peningkatan tekanan dan penurunan tekanan pada tekanan atmosfer, peningkatan tekanan ini disebut kompresi sedangkan penurunan tekanan disebut rarefaksi (peregangan).
Bunyi mempunyai hubungan antara frekwensi vibrasi (f) bunyi, panjang gelombang ( γ ) dan kecepatan V, secara sistematis hubungan itu dapat dinyatakan dalam rumus.
Pada penelitian lebih lanjut diperoleh bahwa bunyi yang melewati berbagai zat mempunyai kecepatan tersendiri seperti terlihat pada daftar di bawah ini :

3. SUMBER BUNYI
Banyak sekali fenomena menghasilkan bunyi. Misalnya pembakaran minyak dalam suatu mesin, selalu menghasilkan bunyi. Bunyi yang dihasilkan instrument musik, gerakan dahan, pohon atau daun juga menghasilkan bunyi. Ruang mulut dan ruang hidung manusia merupakan struktur resonansi untuk menghasilkan vibrasi melalui pita suara; demikian pula garputala yang digetarkan akan menghasilkan bunyi. Dari contoh diatas dapat disimpulkan bunyi itu bisa berasal dari alam, dan bisa berasal dari perbuatan manusia.

4. MENDETEKSI BUNYI
Untuk mendeteksi bunyi perlu mengkonversikan gelombang bunyi bentuk vibrasi sehingga dapat dianalisa frekwensi dan intensitasnya. Untuk perubahan ini diperlukan alat mikrofon dan telinga manusia. Alat mikrofon merupakan transduser yang memberi respon terhadap tekanan bunyi (sound pressure0 dan menghasilkan isyarat/signal listrik. Mikrofon yang banyak digunakan adalah mikrofon kondensor. Pemilihan mikrofon ini sangat penting oleh karena berguna untuk mendeteksi kebisingan lingkungan perusahaan (merupakan medan difus segala arah atau medan bebas) disamping itu perlu diperhatikan faktor kecepatan angina, cuaca oleh karena sangat mempengaruhi pada mikrofon.

5. PEMBAGIAN FREKWENSI BUNYI
Pembagian frekwensi bunyi mempunyai arti dalam hal pengobatan, diagnosis, nyeri yang ditimbulkan dan sebagainya.
Berdasarkan frekwensi maka bunyi dibedakan dalam 3 daerah frekwensi yaitu ;
a. Frekwensi bunyi antara 0 – 16 Hz (infrasound)
Frekwensi ini biasanya ditimbulkan oleh getaran tanah, gempa bumi, getaran bangunan maupun truk mobil. Vibrasi yang ditimbulkan oleh truk mobil biasanya mempunyai frekswensi sekitar 0 – 16 Hz. Frekwensi lebih kecil dari 16 Hz akan menyebabkan perasaan yang kurang nyaman (discomfort), kelesuan (fatique), kadang-kadang menimbulkan perubahan pada penglihatan. Apabila vibrasi bunyi dengan frekwensi infra yang mengenai tubuh akan menyebabkan resonansi dan akan terasa pada beberapa bagian tubuh.
b. Frekwensi antara 16 – 20.000 Hz (frekwensi pendengaran).
Dari hasil percobaan diperoleh kepekaan telinga terhadap frekwensi bunyi antara 16 – 4. 000 Hz. Nilai ambang rata-rata secara internasional terletak di daerah 1.000 Hz. Arti dari nilai ambang yaitu frekwensi yang berkaitan dengan nineau bunyi (dB) yang dapat didengar, misalnya pada frekwensi 30 Hz nineau bunyi harus 60 Hz dB (yaitu 10 6 x 10 -2 W/m2); untuk mendengar bunyi tersebut (60 dB) berarti telinga seseorang harus 10 6 x lebih kuat pada nada 1.000 Hz baru dapat mendengar bunyi tersebut dan berarti pula tekanan bunyinya harus 103 x lebih besar.
Pada usia lanjut misalnya 60 tahun, nilai ambang pendengaran bagi 4.000 Hz terletak ± 40 dB lebih tinggi dari pada usia muda (20 tahun). Gejala naiknya nilai ambang karena usia tersebut dinamakan presbikusis (kurang pendengaran oleh karena umur semakin tua ).
c. Frekwensi diatas 20.000 Hz
Frekwensi ini disebut ultrasonic/bunyi ultra. Frekwensi ini dalam bidang kedokteran digunakan dalam 3 hal yaitu pengobatan, destruktif/penghacuran dan diagnosis. Hal ini dapat terjadi oleh karena frekwensi yang tinggi mempunyai daya tembus jaringan cukup besar.

6. INTENSITAS BUNYI
Untuk menghitung intensitas bunyi perlu mengetahui energi yang dibawa oleh gelombang bunyi. Energi bunyi ada 2 yaitu energi potensial dan energi kinetik. Intensitas gelombang bunyi (I) yaitu energi yang melewati medium 1 m2/detik atau watt/m2. Apabila dinyatakan dalam rumus maka
ρ = Masa jenis medium (Kg/m )
v = Kecepatan bunyi (m/detik)
ρv = Z = Impedansi akustik
A = Maksimum amplitude atom-atom/molekul.
F = Frekwensi
W = 2πf = frekwensi sudut

Intensitas (I) dapat pula dinyatakan sebagai berikut :

Po = Perubahan tekanan maksimum (N/m ).

7. SKALA DESIBEL (NINEAU BUNYI)
Alexander Graham Bell (1847 – 1922) guru besar Fisiologi di Boston, adalah penemu telpon tahun 1876, melakukan penelitian terhadap suara dan pendengaran, beliau mengatakan satu bel; (nineau suara) = apabila diperoleh intensitas suatu bunyi adalah 10 kali intensitas yang lainnya maka . Intensitas yang lainnya maka .
Oleh karena bell merupakan unit yang besar sehingga dipakai decibel (dB). Hubungan bell dengan decibel dinyatakan 1 bell = 10 dB. Telah diketahui bahwa intensitas (I) berbanding langsung dengan P maka perbandingan antara tekanan dari dua bunyi dapat dinyatakan sebagai berikut :

10 Log = 20 Log
Rumus ini menunjukkan nilai decibel (dB) yang dipergunakan untuk membandingkan dua tekanan bunyi dalam medium yang sama.

8. KEKERASAN BUNYI / NYARING BUNYI
Kekerasan bunyi merupakan bagian dari ukuran bunyi yang merupakan perbandingan kasar dari logaritma intensitas efketifnya jarak penekanan bunyi yang mengakibatkan respon pendengaran. Kenyaringan bunyi tidak berkaitan dengan frekwensi ; kenyaraan 30 Hz mempunyai kekerasan sama dengan 4. 000 Hz bahkan mempunyai perbedaan intensitas dengan faktor 1.000.000 atau 6 dB.

9. SIFAT GELOMBANG BUNYI
Gelombang bunyi mempunyai sifat memantul, diteruskan dan diserap oleh benda. Apabila gelombang suara mengenai tubuh manusia (dinding) maka bagian dari gelombang akan dipantulkan dan bagian lain akan diteruskan / ditransmisi ke dalam tubuh. Mula-mula gelombang bunyi dengan amplitudo tertentu mengenai dinding, gelombang bunyi tersebut dipantulkan (R).pantulan tesebut tergantung pada impedansi akustik. Pernyataan itu ditulis sebagai berikut :

= Impedansi akustik (V) dari kedua media.
Telah diketahui bahwa gelombang bunyi sebagian akan diteruskan (T); besarnya T dapat dihitung dengan menggunakan rumus :


Pada hukum geometri diketahui bahwa cahaya bisa refleksi (pantul) dan refraksi (patah). Demikian pula pada gelombang bunyi dapat dipatah (direfraksi) dan gelombang bunyi yang masuk ke dalam jaringan akan mengakibatkan berkurangnya amplitude gelombang bunyi.
Nilai amplitudo bunyi yang menetap pada jaringan dinyatakan dalam rumus :

A = Amplitudo bunyi yang menetap pada jaringan yang tebal X cm
Ao= Amplitudo bunyi mula-mula
ά= Koefisien absorpsi jaringan (cm )
x = Tebal jaringan (cm).

Hal yang sama dapat pula diketahui berupa nilai intensitas bunyi yang menetap pada jaringan yaitu :


Io = Intensitas mula-mula
I = Intensitas bunyi yang menetap pada jaringan
ά = Koefisien absorpsi

Dengan mempergunakan rumus-rumus tersebut dapat menghitung nilai absorpsi jaringan terhadap gelombang bunyi.

Koefisien absorpsi dan nilai paruh ketebalan jaringan
Bahan Frekwensi α
Nilai paruh ketebalan jaringan (cm)
Otot 1 0,13 2,7
Lemak 0,8 0,05 6,9
Otak 1 0,11 1,2
Tulang 0,6 0,4 6,95
Air 1 2,5 x 10
14 x 10


10. AZAS DOPPLER
Pada tahun 1800 ahli fisika telah membuktikan bahwa sumber bunyi berfrekwensi fo mempunyai derajat tinggi apabila sumber bunyi bergerak mendekati pendengaran; apabila sumber bunyi bergerak menjauh pendengar akan terdapat frekwwensi dengan derajat rendah. Demikian pula apabila pendengar mendekati sumber bunyi akan memperoleh frekwensi bunyi dengan derajat tinggi. Percobaan frekwensi ini disebut Doppler Shift. Sedang efek yang timbul akibat bergeraknya sumber bunyi atau bergeraknya pendengar disebut efek Doppler.
Efek Doppler ini dipergunakan untuk mengukur bergeraknya zat cair di dalam tubuh misalnya darah. Berkas ultrasonic/bunyi ultra uynag mengenai darah (darah bergerak menjauhi bunyi) darah akan memantulkan bunyi ekho dan diterima oleh detector .


B. ULTRASONIK DALM BIDANG KEDOKTERAN

1. PENDAHULUAN
Ultrasonic / bunyi ultra dihasilkan oleh magnet listrik dan “Kristal Piezo Electric” dengan frekwensi di atas 20.000 Hz.
a. Magnet listrik
Batang ferromagnet diletakkan pada medan magnet listrik maka akan timbul gelombang bunyi ultra pada ujung ferromagnet. Demikian pula apabila batang ferromagnet dilingkari dengan kawat kemudian dialiri listrik akan timbul gelombang ultrasonic pada ujung batang ferromagnet.
b. Piezo electric
Kristal piezo electric ditemukan oleh Piere Curie dan Jacques pada tahun sekitar 1880; tebal kristal 2, 85 mm. apabila kristal piezo electric dialiri tegangan listrik maka lempengan kristal akan mengalami vibrasi sehingga timbul frekwensi ultra; demikian pula vibrasi kristal akan menimbulkan listrik. Berdasarkan sifat itu maka kristal electric dipakai sebagai transduser pada ultrasonografi.

2. DAYA ULTRASONIK
Frekwensi dan daya ultrasonic yang dipakai dalam kedokteran menurut kebutuhan; apabila ultrasonic yang digunakan untuk diagnostic maka frekwensi yang digunakan sebesar 1 MHz sampai 5 MHz dengan daya 0,01 W/cm . Apabila daya ultrasonic ditingkatkan sampai 1 W / cm akan dipakai sebagai pengobatan, sedangkan untuk merusakkan jaringan kanker dipakai daya 10 W/cm .

3. PRINSIP PENGGUNAAN ULTRASONIK
Efek Doppler merupakan dasar penggunaan ultrasonic yaitu terjadi perubahan frekwensi akibat adanya pergerakan pendengar atau sebaliknya; dan getaran bunyi yang dikirim ke tempat tertentui (ke objek) akan direfleksi oleh objek itu sendiri.

Efek gelombang ultrasonic
Ultrasonic sama dengan gelombang bunyi hanya saja frekwensi yang sangat tinggi dan mempunyai efek :
o Mekanik
Yaitu membentuk emulsi asap / awan dan disintegrasi beberapa benda padat, dipakai untuk menentukan lokasi batu empedu.
o Panas
Nelson Heerich dan Krusen, menunjukkan bahwa sebagian ultrasonic mengalami refleksi pada titik yang bersangkutan, sedangkan sebagian lagi pada titik tersebut mengalami perubahan panas. Pada jaringan bisa terjadi pembentukan rongga dengan intensitas yang tinggi.
o Kimia
Gelombang ultrasonic menyebabkan proses oksidasi dan terjadi hidrolisis pada ikatan polyester.
o Efek biologis
Efek yang ditimbulkan ultrasonic ini merupakan gabungan dari berbagai efek misalnya akibat pemanasan menimbulkan pelebaran pembuluh darah. Selain itu ultrasonic menyebabkan peningkatan permeabilitas membran sel dan kapiler serta merangsang aktifitas sel. Sesuai hukum Van’t Hoff (menimbulkan panas) otot mengalami paralyse dan sel-sel hancur; bakteri, virus dapat mengalami kehancuran. Selain itu menyebabkan keletihan pada tubuh manusia apabila daya ultrasonic ditingkatkan.

4. PENGGUNAAN DALAM BIDANG KEDOKTERAN
Berkaitan dengan efek yang ditimbulkan gelombang ultrasonic dan sifat gelombang bunyi ultra maka gelombang ultrasonic dipergunakan sebagai diagnosis dan pengobatan.
a. Ultrasonik sebagai pelengkap diagnosis
Kristal piezo electric yang bertindak sebagai transduser mengirim gelombang ultrasonic mencapai pada dinding berlawanan, kemudian gelombang bunyi dipantulkan dan diterima oleh transduser tersebut pula. Transduser yang menerima gelombang balik akan diteruskan ke amplifier berupa gelombang listrik kemudian gelombang tersebut ditangkap oleh CRT (ossiloskop).
Gambaran yang diperoleh CRT tergantung tehnik yang dipergunakan. Ada 3 macam metade dalam memperoleh gambaran yaitu :

o A Skanning
Disini yang akan dicari adalah besar amplitude sehingga di sebut A Skanning. Bunyi yang dihasilkan oleh piezo electric melalui transduser akan mencapai dinding B kemudian dipantulkan ke dinding A dan diterima oleh transduser.
o B Skanning
B Skanning disebut pula Bright Scanning. Metode skanning ini banyak dipakai di klinik oleh karena ini bisa memperoleh pandangan / gambaran dua dimensi dari bagian tubuh. Prinsip B Skanning sama dengan A Skanning. Hanya saja pada B Skanning transdusernya digerakkan (moving) sedangkan pada A Skanning transdusernya tidak digerakkan.
Gerakan transduser mula-mula akan menghasilkan echo dapat dilihat adanya dot (dot ini disimpan pada CRT) kemudian transduser digerakkan kea rah lain menghasilkan echo pula sehingga kemudian tercipta suatu gambaran dua dimensi.
Pada B Skanning ini, operator boleh meilih dua mode control pada alat elektronik; untuk mencapai nilai ambang agar memperoleh gambaran yang dikehendakinya maka dipakai alat control leading edge display.
Untuk mengatur cahaya benderang pada layer TV (=CRT = Tabung sinar katode) yang sebanding dengan besarnya echo / gema yang dihasilkan oleh transduser ultrasonic naka dipakai alat gray scale display.
o M Skanning
M Skanning atau Modulation scanning ini merupakan dua metode yang digunakan dalam kaitan untuk memperoleh informasi gerakan alat-alat dengan mempergunakan ultrasonic. Misalnya hal mempelajari gerakan jantung dan gerakan vulva, atau tehnik Doppler yang dipergunakan untuk mengukur aliran darah.
Pada M Skanning dimana A akan dalam keadaan stationer sedangkang echo yang terjadi berupa dot dari B skan.
b. Hal-hal yang didiagnosis dengan ultrasonic
Sesuai dengan metode skanning yang dipakai maka ultrasonic dapat dipergunakan untuk diagnosis :
o A Skanning
Mendiagnosis tumor otak ( echo encephalo graphy), memberi informasi tentang penyakit-penyakit mata, daerah / lokasi yang dalam dari bola mata, menentukan apakah cornea atau lensa yang opaque atau ada tumor-tumor retina.
o B Skanning
- Untuk memperoleh informasi struktur dalam dari tubuh manusia. Misalnya hati, lambung, usus, mata, mamma, jantung janin.
- Untuk mendeteksi kehamilan sekitar 6 minggu, kelainan dari uterus / kandung peranakan dan kasus-kasus perdarahan yang abnormal serta treatened abortus (abortus yang sdang berlangsung).
- Lebih banyak memberi informasi daripada X-Ray dan sedikit resiko yang terjadi. Misalnya X-Ray hanya dapat mendeteksi kista yang radiopaque sedangkan B Skanning lebih banyak memberi petunjuk tentang yipe berbagai kista.
o M Skanning
- Memberi informasi tentang jantung, valvula jantung, pericardial effusion (timbunan zat cair dalam kantong jantung)
- M Skanning mempunyai kelebihan yaitu dapat dikerjakan sembari pengobatan berlangsung untuk menunjukkan kemajuan dalam pengobatan.
c. Penggunaan ultrasonic dalam pengobatan
Sebagaimana telah diketahui bahwa ultrasonic mempunyai efek kimia dan biologi maka ultrasonic dapat dipergunakan dalam pengobatan. Ultrasonic memberi efek kenaikan temperature dan peningkatan tekanan; efek ini timbul karena jaringan mengabsorpsi energi bunyi dengan demikian ultrasonic dipakai sebagai diatermi/ pemanasan. Daya ultrasonic yang dipakai sebesar beberapa W/cm dilakukan dalam 3 – 10 menit, dua kali sehari, seminggu dilakukan 3 kali. Gelombang ultrasonic berbeda dengan gelombang elektromagnetik dan panas yang ditimbulkan oleh ultrasonic sangat berbeda dengan microwave diathermi.
Ultrasonic sebagai diathermi, intensitas yang dipakai 1 – 10 W / cm dengan frekwensi sebesar 1 MHz pemindahan amplitude sebesar 10 W/cm ke dalam jaringan ± 10 cm, maksimum tekanan 5 atm. Tekanan mula-mula maksimum, berubah menjadi minimum dengan panjang gelombang ½ λ; untuk 1 MHz gelombang ke dalam jaringan sebesar ½ λ = 0,7 mm.
Selain itu ultrasonic dapat dipakai untuk menghancurkan jaringan ganas (kanker). Sel-sel ganas akan hancur pada beberapa bagian sedangkan di daerah lain kadang-kadang menunjukkan rangsangan pertumbuhan ; masih diselidiki lebih lanjut.
Pada penderita Parkinson, penggunaan ultrasonic dalam pengobatan sangat berhasil namun sangat disayangkan untuk memfokuskan bunyi kearah otak sangat sulit. Sedangkan pada penyakit meniere dimana keadaan penderita kehilangan pendengaran dan keseimbangan, apabila diobati dengan ultrasonic dikatakan 95 % berhasil baik, ultrasonic menghansurkan jaringan dekat telinga tengah.

5. PENGGUNAAN ULTRASONOGRAFI DALAM PEMERIKSAAN JANIN
Perkembangan teknologi dan pengalaman penggunaan Ultrasonografi (USG) dalam bidang kedokteran sejak tahun 1952-an, memyebabkan USG pada saat ini mampu memberikan berbagai informasi yang sangat penting mengenai janin bukan saja dimensi / ukurannya, melainkan juga morfologi, fisiologi dan patofisiologinya.
Lebih lanjut, perkembangan teknologi USG pada saat ini telah jauh melampaui kemampuannya yang dahulu yaitu hanya sebagai alat Bantu diagnostic saja, tetapi juga telah menjadi alat Bantu terapi. Misalnya , janin yang anemia akibat penyakit aloimun dapat diperpanjang hidupnya dengan pemberian transfusi darah intra uterin dengan bantuan USG.
Pada tahun 1986, AIUM (The American Institute of Ultrasound in Medicine) telah menetapkan batasan minimal yang merupakan tujuan pemeriksaan USG di bidang Obstetri, yaitu untuk menentukan :
a. Pada trimester pertama :
 Lokasi kantong janin, janin dan ukuran Crown Rump Length (CRL-nya)
 Janin hidup atau mati
 Jumlah janin
 Keadaan rahim dan adneksa
b. Pada trimester kedua dan ketiga, tujuannya adalah untuk menentukan :
 Apakah janin hidup atau mati, jumlah dan presentasinya.
 Jumlah cairan ketuban (normal, sedikit atau berlebihan)
 Morfologi plasenta dan lokasinya terhadap ostium uteri internum
 Umur kehamilan ditentukan dengan kombinasi pemeriksaan Biparietal Diameter (BPD), Head Circumference (HC) dan Femur Length (FL). Pemantauan pertumbuhan janin dinilai dengan melibatkan pemeriksaan AC.
 Evaluasi keadaan rahim dan adneksanya
 Pemeriksaan anatomi janin, setidaknya meliputi pemeriksaan : hemisfer otak, tulang belakang, lambung, kandung kemih, insersi tali pusat ke dinding perut janin dan ginjal janin.

Secara garis besar pemeriksaan janin dengan USG dapat dibedakan atas :
a. Pemeriksaan morfometri / biometri janin
Dengan pemeriksaan morfometri dapat ditentukan :
- Umur kehamilan
- Berat badan janin
- Pertumbuhan janin
b. Pemeriksaan kelainan congenital / morfologi janin dan tali pusat.
c. Pemantauan fungsi organ tubuh (fisiologi )janin.

PEMERIKSAAN MORFOMETRI / BIOMETRI JANIN
Penentuan umur kehamilan
Untuk menentukan umur kehamilan secara USG, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan yaitu :
a. Ketepatan perkiraan umur kehamilan berbanding terbalik dengan usia janin.
b. Metode pengukuran yang optimal tergantung pada umur kehamilannya.
c. Masih terdapat kemungkinan kesalahan dalam tehnik pengukuran
d. Ketepatan diagnosis semakin meningkat dengan penggunaan beberapa metode pengukuran.
e. Pada kehamilan lanjut , ketepatan diagnosis semakin meningkat apabila dilakukan pemeriksaan serial.
Berbagai metode pengukuran morfometri yang ada saat ini adalah :
a. Kehamilan trimester I
• Crown Rump Length (CRL)
• Pengukuran dimensi lain dari janin pada kehamilan trimester I antara lain :
 Pengukuran volume kantong janin
 Pengukuran tebalnya lapisan trofoblas
 Pengukuran diameter dan volume kantong kunir ( Yolk sac)
b. Kehamilan trimester II dan III
• Biparietal diameter (BPD)
• Panjang femur (FL = Femur Length)
• Lingkaran kepala (Head Circumference)
• Lingkaran perut (AC= abdominal circumference)
• Kombinasi beberapa pengukuran
• Parameter yang lain
 Fetal ocular biometry (jarak kedua mata janin)
 Humerus length (panjang humerus)
 Tibia and fibula length ( panjang tibia dan fibula)
 Ulna and radius length (panjang ulna dan radius)
 Fetal Kidney bimetry (volume, ketebalan , panjang dan lebar)
 Fetal adrenal biometry

Penaksiran berat badan janin
Penaksiran berat badan janin, seperti juga penentuan usia kehamilan sangat penting dalam penentuan jenis tindakan obstetric yang akan diambil oleh karena menyangkut prognosis janin atau neonatus yang akan dilahirkan.
Perlu disadari bahwa cara penentuan berat badan janin dengan USG yang dianut saat ini setidaknya mempunyai 2 kelemahan utama yang menjadi penyebab ketidaktepatan dalam penafsiran, yaitu :
a. Pengukuran volume janin sering ditentukan dengan pengukuran linier 1 dimensi atau 2 dimensi
Pengukuran BPD dan FL adalah cara pengukuran satu dimensi, pengukuran AC dan HC adalah 2 dimensi, sedangkan pengukuran TIUV dan volume janin adalah cara pengukuran 3 dimensi.
b. Menganggap bahwa densitas rata-rata semua janin adalah sama, sehingga perbedaan berat badannya hanya ditentukan oleh perbedaan volume tubuhnya.


Pemantauan pertumbuhan janin
Dengan melakukan pemeriksaan morfometrik dan berat badan janin secara serial, maka kita dapat membuat kurva pertumbuhannya yang dapat dibadingkan dengan kurva pertumbuhan normal.
Pertumbuhan janin terhambat (PJT) atau IUGR (intra uterine growth retardation) didiagnosis apabila kurve pertumbuhan yang ditemukan berada pada atau di bawah garis 10 persentil dari kurve pertumbuhan normal.

Penentuan ada tidaknya kelainan congenital / kelainan morfologi
Penggunaan USG untuk mendeteksi kelainan congenital dalam kehamilan,pertama kali dilaporkan oleh Ian Donald tahun 1961 dan kemudian oleh Suden B tahun 1964. akan tetapi, laporan mengenai kelainan congenital yang terdeteksi dalam kehamilan yang mempengaruhi pengelolaan persalinannya baru dilaporkan oleh Campbell S dkk tahun 1972.
Nicolaids di King’s College Hospital, London melaporkan kemampuan USG yang tinggi untuk mendeteksi kelainan congenital dengan sensitifitas 84% dan spesifisitas 99,9%.
Robert CJ dkk mengemukakan bahwa dengan adanya alat USG yang semakin baik resolusinya di tangan operator yang berpengalaman, sensitivitasnya dalam mendiagnosis kelainan congenital meningkat dari 36% menjadi 80% dan nilai positif palsunya menurun dari 90% menjadi 20%.
Kelainan congenital pada umumnya akan terdeteksi secara USG apabila ditemukan hal-hal sebagai berikut :
a. Hilangnya struktur anatomi yang normal
b. Terjadinya perubahan bentuk, tepi, lokasi atau ukuran dari struktur anatomi yang normal.
c. Adanya struktur yang abnormal
d. Kelainan biometri janin
e. Adanya gerakan janin yang abnormal.
Kemampuan USG untuk mendiagnosis kelainan congenital secara USG juga tergantung pada :
a. Pengetahuan operator akan anatomi janin yang normal
b. Kemampuan resolusi alat USG
c. Embryologic time table, yaitu misalnya keadaan yang fisiologis pada trimester pertama bisa menjadi patologis bila menetap sampai trimester terakhir.
d. Natural history of the disease, misalnya diagnosis infantile polycystic kidney disease (IPKD) digambarkan apabila ditemukan tanda-tanda gagal ginjal inutero yaitu oligohidramnionn vesika urinaria yang kosong disertai dengan gambaran ginjal yang besar dan hiperekhogenic.
Mayden – Argo menganjurkan untuk mencari kemungkinan adanya kelainan congenital apabila ditemukan keadaan-keadaan sebagai berikut :
a. Pasien dengan riwayat pernah melahirkan bayi dengan kelainan congenital yang terdiagnosis dengan USG
b. Janin yang sudah dicurigai mengalami kelainan congenital
c. Janin dengan riwayat kelainan kromosom yang berhubungan dengan kelainan structural.
d. Pada pemeriksaan USG rutin, dicurigai adanya kelainan janin
e. Adanya hidramnion atau oligohidramnion
f. Peningkatan kadar AFP (alfa feto protein)
g. Kehamilan dicurigai mengalami keadaan-keadaan yang dapat menyebabkan cacat bawaan, misalnya radiasi, abortivum dan lain-lain.
h. Kehamilan dengan insuline-dependent DM
i. Hydrop foetalis
Pemantauan lingkungan dan keadaan fungsional / fisiologi janin
Dengan pemeriksaan USG bukan saja dapat diketahui keadaan morfologi dan ukuran dimensi janin, melainkan lebih penting lagi dapat diketahui keadaan kesejahteraan janin dengan cara mengevaluasi kelancaran proses fisiologi organ tubuh janin dan hasilnya. Tujuan pemeriksaan janin disini tidak terbatas untuk pemeriksaan diagnosis saja, melainkan juga untuk tujuan pengelolaan termasuk terapinya.
Keadaan gawat janin yang merupakan indikasi untuk mengakhiri suatu kehamilan , saat ini diketahui pada umumnya telah terjadi secara kronis dan perlangsungannya perlahan-lahan sehingga dapat memberikan kesempatan kepada janin untuk beradaptasi. Dengan mengetahui mekanisme dan patofisiologi terjadinya keadaan hipoksia dan gawat janin, serta mekanisme respon fisiologis janin, maka kita dapat memilih jenis pemeriksaan mana yang tepat untuk diambil.
Yang termasuk dalam pemeriksaan keadaan lingkungan dan fungsional janin adalah :
a. Volume cairan amnion
b. Kondisi biofisik (biophysical profile)
c. Aliran darah janin (fetal haemodynamic)
d. Tali pusat
e. Plasenta
f. Penilaian ketebalan lemak subkutan dan otot janin.

C. SUARA
1. PENDAHULUAN
Suara pada hakekatnya sama dengan bunyi. Hanya saja kata suara dipakai untuk makhluk hiduk atau benda yang dimakhlukkan, sedangkan kata bunyi dipakai untuk benda mati. Untuk jelasnya disajikan beberapa contoh :
- Suara burung
- Suara si slamet
- Suara mobil ; disini mobil dimakhlukkan
- Bunyi gaduh
- Bunyi daun gemersik
- Bunyi alarm
2. MEKANISME PEMBENTUKAN SUARA / UCAPAN
Suara bicara normal merupakan hasil dari modulasi udara yang mengalir keluar dari dalam tubuh. Untuk macam-macam suara, mulai dari paru-paru yang penuh dengan uap udara melalui pita suara (vocal cords) kadang-kadang disebut glottis dan beberapa ruang vocal, udara keluar melalui mulut dan sedikit melalui hidung. Pembentukan suara melalui mulut ini disebut bicara.
Beberapa bunyi yang dihasilkan melalui mulut tanpa mempergunakan pita suara disebut unvoiced sound. Misalnya p, t, k, s, f dan ch, kalau kita perincikan lagi maka :
- P,t dan k suara / bunyi letupan (plosive sound)
- S, f dan ch suara / bunyi frikatif (fricative sound)
- Ch kombinasi dari kedua tipe di atas.
Uncoiced sound merupan aliran udara melalui penciutan (contriction) atau dibentuk oleh lidah, gigi, bibir, dan langit-langit.
Frekwensi dasar dari hasil vibrasi yang kompleks tergantung dari massa dan tegangan pita suara . laki-laki mempunyai frekwensi suara 125 Hz sedangkan wanita 150 Hz. Frekwensi rendah yang dihasilkan penyanyi sekitar 64 Hz (C rendah) dan frekwensi tinggi (suara sopran) sekitar 2, 048 Hz.
Pada suatu studi mengenai ucapan huruf hidup dan mati diperoleh bahwa huruf hidup banyak mengandung tenaga daripada huruf mati; perbandingan tenaga antara huruf hidup dan huruf mati 68 : 1.

D. ALAT PENDENGARAN
1. PENDAHULUAN
Alat pendengaran yang dimaksud disini adalah telinga. Telinga merupakan alat penerima gelombang suara atau gelombang udara kemudian gelombang mekanik ini di ubah menjadi pulsa listrik dan diteruskan ke korteks pendengar melalui saraf pendengaran.
2. PEMBAGIAN ALAT PENDENGARAN
Telinga dibagi dalam 3 bagian yaitu telinga luar, telinga tengah dan telingan dalam.
a. Telinga bagian luar.
Terdiri dari daun telinga dank anal telinga, batas telinga luar yaitu dari daun telinga dampai dengan membran tympani.
Berbagai binatang daun telinga berfungsi sebagai pengumpul energi dan dikonsentrasikan pada membran tympani. Pada manusia hanya menangkap 6-8 dB, sedangkan telinga gajah hanya berfungsi sebagai pelepas panas.
Pada kanalis telinga terdapat malam (wax) yang berfungsi sebagai peningkatan kepekaan terhadap frekwensi suara 3.000 – 4.000 Hz, panjang kanalis 2,5 cm ( ), λ = 10 cm.
Membran tympani tebalnya 0,1 mm, luas 65 mm , mengalami vibrasi dan diteruskan ke telinga bagian tengah yaitu pada tulang telinga (incus, malleus dan stapes).
Sarjana Van Bekesey melakukan studi tentang vibrasi membran tympani pada telinga cadaver yang mati. Kemudian melalui tehnik fisika yang modern (mors bauer effect) diperoleh secara nyata gerakan dari membran tympani yaitu nilai ambang pendengar pada 3.000 Hz ≈ 10 cm.
Nilai ambang pendengar terendah yang dapat didengar ~ 20 Hz dan pada 160 dB membran tympani mengalami rupture/ pecah.
b. Telinga bagian tengah.
Batas telinga tengah mulai dari membran tympani sampai dengan tuba eustachius. Terdiri dari 3 buah tulang yaitu malleus, incus dan stapes. Suara yang masuk itu 99,9% mengalami refleksi dan hanya 0,1% saja yang ditransmisi diteruskan. Pada frekwensi kurang dari 400 Hz membran tympani bersifat “per” sedangkan pada frekwensi 4.000 Hz membran tympani akan menegang. Telinga bagian tengah ini memegang peranan proteksi. Hal ini dimungkinkan oleh karena adanya tuba eustacius yang mengatur tekanan di dalam telinga bagian tengah, dimana tuba eustachius mempunyai hubungan langsung dengan mulut. Pada beberapa penyebab sehingga terjadi perbedaan tekanan antara telinga bagian tengah dan dunia luar akan mengakibatkan penurunan sensitifitas tekanan (misalnya pada penderita influenza) ; pada tekanan 60 mm Hg yang mengenai membran tympani akan mengakibatkan perasaan nyeri.
c. Telinga bagian dalam.
Berada di belakang tulang tengkorak kepala terdiri dari cochlea dan oval window. Bagian ini mengandung struktur spiral yang dikenal sebagai cochlea, berisikan cairan. Ukuran cochlea sangat kecil berkisar 3 cm panjang, terdiri dari 3 ruangan yaitu : ruangan vestibular merupakan tempat berakhirnya oval window, ductus cochlearis dan ruangan tympani berhubungan dengan atap spiral. Pada cochlea terdapat 8.000 konduktor yang berhubungan dengan otak melalui saraf pendengaran.
Gelombang bunyi yang masuk melalui oval window menghasilkan gelombang bunyi yang berippel (bergerigi) mencapai membran basiler pada ductus cochlearis. Di sini gelombang tersebut di ubah menjadi gelombang sinyal listrik dan diteruskan ke otak lewat syaraf pendengaran.
Apabila bunyi yang didengar 10.000 Hz, syaraf yang terdapat pada organ corti tidak mengirim rangsangan 10.000 Hz ke otak melainkan mengirim rangsangan secara seri ke otak yang berupa gelombang bunyi yang sinusoidal.

3. SPESIALISASI DALAM PENDENGARAN TELINGA
Dalam bidang kedokteran dibagi dalam masing-masing bagian sesuai dengan keahlian.
- Otologist : seorang dokter yang ahli dalam hal telinga dan pendengaran.
- Otolaryngologist : seorang dokter yang ahli dalam bidang penyakit telinga dan operasi telinga.
- ENT Spesialist : dokter ahli THT yaitu seorang dokter yang ahli dalam hal telinga hidung dan tenggorokan.
- Audiologist : seseorang yang bukan dokter, tetapi ahli dalam mengukur respon pendengaran, diagnosis kelainan pendengaran melalui test pendengaran, rehabilitasi yang berkaitan dengan hilangnya pendengaran.



4. TEST PENDENGARAN DAN HILANG PENDENGARAN
a. Hilang pendengaran.
Ada dua macam hilang pendengaran yaitu hilang pendengaran karena konduksi (tuli konduksi), hilang pendengaran karena syaraf (tuli syaraf/persepsi).
- Tuli konduksi
Dimana vibrasi suara tidak dapat mencapai telinga bagian tengah. Tuli semacam ini sifatnya hanya sementara oleh karena adanya malam/wax/serumen atau adanya cairan di dalam telinga tengah. Apabila tuli konduksi tidak pulih kembali dapat menggunakan hearing aid (alat pembantu pendengaran).
- Tuli persepsi
Bisa terjadi hanya sebagian kecil frekwensi saja atau seluruh frekwensi yang tidak dapat didengar. Tuli persepsi ini sampai sekarang belum bisa diobati.
b. Tes pendengaran
Untuk mengetahui tuli konduksi atau tuli syaraf dapat dilakukan test pendengaran dengan mempergunakan :
 Test suara berbisik / noise box
Telinga normal dapat mendengar suara berbisik dengan tone / nada rendah. Misalnya suara konsonan dan palatal : b, p, t, m n pada jarak 5 – 10 meter. Suara berbisik dengan nada tinggi misalnya suara desis / sibiland s, z, ch, sh shel pada jarak 20 meter.
 Test garputala
Untuk mengetahui secara pasti apakah penderita tuli konduksi atau persepsi dapat mempergunakan garputala. Frekwensi garputala yang dipakai C 1 2 8, C 1024, dan C 2048. ada 3 macam tes yang mempergunakan garputala yaitu tes weber, tes Rinne dan tes Schwabach.
 Tes Weber
Garputala C 128 digetarkan kemudian diletakkan pada verteks dahi/ puncak dahi verteks. Pada penderita tuli konduktif (disebabkan wax atau otitis media) akan terdengar terang / baik pada telinga yang sakit. Misalnya telinga kanan yang terdengar baik/ terang disebut Weber lateralisasi ke kanan. Pada penderita tuli persepsi, getaran garputala terdengar terang pada telinga normal.
 Tes Rinne
Tes ini membandingkan antara konduksi melalui tulang dan udara. Garputala digetarkan (C 128) kemudian diletakkan pada prosesus mastoideus (dibelakang telinga), setelah tidak mendengar getaran lagi garputala dipindahkan di depan liang telinga; tanyakan penderita apakah masih mendengarnya.
Normal :
Konduksi melalui udara 85 – 90 detik. Konduks imelalui tulang 45 detik.
Test Rinne positif (+) :
Pendengran penderita baik juga pada penderita tuli persepsi.
Test Rinne negatif (Rinne -)
Pada penderita tuli konduksi dimana jarak waktu konduksi tulang mungkin sama atau bahkan lebih panjang.
 Tes Schwabach
Test ini membandingkan jangka waktu konduksi tulang melalui verteks atau prosesus mastoideus penderita dengan konduksi tulang si pemeriksa.
Pada tuli konduksi :
Konduksi tulang penderita lebih panjang daripada si pemeriksa.
Pada tuli syaraf/persepsi :
Konduksi tulang sangat pendek.
Catatan :
Garputala C 2048 dipakai untuk memeriksa ketajaman pendengaran terhadap nada tinggi. Pada orang tua/lansia dan tuli persepsi akan kehilangan pendengaran terhadap nada tinggi.
 Audiometer
Merupakan alat elektronik pembangkit bunyi yang dipergunakan untuk mengukur derajat ketulian. Alat elektronik ini dapat membangkitkan bunyi pada berbagai frekwensi dan dihubungkan dengan earphon. Pemeriksa menekan knop frekwensi tertentu sedangkan penderita mengacungkan tangan tanda mendengar. Pada saat ini pemeriksa memberi tanda pada sebuah kartu yang telah ada frekwensi tertentu .


E. BISING
1. PENDAHULUAN
Bising didefinisikan sebagai bunyi yang tidak dikehendaki yang merupakan aktivitas alam (bicara, pidato) dan buatan manusia (bunyi mesin).
Bunyi dinilai sebagai bising sangatlah relative sekali. Suatu contoh misalnya : musik tempat-tempat diskotik, bagi orang yang biasa mengunjungi tempat itu tidak merasa suatu kebisingan , tetapi bagi orang-orang yang tidak pernah berkunjung di tempat diskotik akan merasa suatu kebisingan yang menganggu.
Profesor Phoan Way On (Singapura, 1975) mengatakan bahwa dinegara industri misalnya Amerika Serikat, peningkatan kebisingan setiap tahunnya diperkirakan 1 dB. Pada tahun 1990 diperkirakan tingkat kebisingan akan mencapai 100 kali lebih besar daripada tahun 1975.
2. PEMBAGIAN KEBISINGAN
Berdasarkan frekwensi, tingkat tekanan bunyi, tingkat bunyi dan tenaga bunyi maka bising di bagi dalam 3 katagori :
 Audio noise (bising pendengaran)
Bising ini disebabkan oleh frekwensi bunyi antara 31,5 – 8.000 Hz.
 Occupational noise (bising yang berhubungan dengan pekerjaan)
Bising ini disebabkan oleh bunyi mesin di tempat kerja, bising dari mesin ketik.
 Impuls noise ( Impact noise = bising impulsive)
Bising yang terjadi akibat adanya bunyi yang menyentak, misalnya pukulan palu, ledakan meriam tembakan kecil.
Berdasarkan waktu terjadinya, maka bising dibagi dalam beberapa jenis :
 Bising kontinyu dengan spectrum luas, misalnya bising karena mesin, kipas angina
 Bising kontinyu dengan spectrum sempit, misalnya bunyi gergaji, penutup gas.
 Bising terputus-putus (intermittent) , misalnya lalu lintas, bunyi kapal terbang.
 Bising sehari penuh (full time noise)
 Bising setengah hari (part time noise)

 Bising terus menerus (steady noise)
 Bising impulsive (impuls noise ataupun bising sesaat (letupan))

Berdasarkan dkala intensitas maka tingkat kebisingan dibagi dalam : sangat tenang, tenang, sedang, kuat, sangat hiruk pikuk dan menulikan. (Lihat daftar skala intensitas kebisingan).


3. PENGARUH BISING TERHADAP KESEHATAN
Pengaruh utama dari kebisingan adalah kerusakan pada indera pendengar dan akibat ini telah diketahui dan diterima umum. Kerusakan atau gangguan system pendengaran dibagi atas :
 Hilangnya pendengaran secara temporer/ sementara dan dapat pulih kembali apabila bising tersebut dapat dihindarkan.
 Orang menjadi kebal atau imun terhadap bising.
 Telinga berdengung
 Kehilangan pendengaran secara menetap dan tidak pulih kembali, biasanya dimulai pada frekwensi sekitar 4.000Hz, kemudian menghebat dan meluas pada frekwensi sekitarnya dan akhirnya mengenai frekwensi percakapan.
Selain pengaruh bising terhadap system pendengaran , dapat pula mengganggu konsentrasi, meningkatnya kelelahan : ini dapat terjadi pada kebisingan tingkat rendah sedangkan pada tingkat tinghgi kebisingan dapat menyebabkan salah tafsir pada saat bercakap-cakap. Apabila bising berinterferensi dengan frekwensi 300 – 3.000 Hz akan menyebabkan perasaan tidak enak dalam pekerjaan dan terhadap lingkungan sekitarnya akan menimbulkan reaksi masyarakat yaitu protes terhadap kebisingan.
Pada suatu penelitian di Jerman menunjukkan pekerja yang mengalami kebisingan dapat menyebabkan gangguan hormonal, system saraf dan merusak metabolisme.
Para ahli Rusia menemukan pekerja-pekerja di industri mengalami perubahan saluran darah dan timbul bradicardia, fisik lesu dan mudah terangsang.

4. PENCEGAHAN KETULIAN DARI PROSES BISING
Prinsip pencegahan ketulian dari proses bising adalah menjauhi dari sumber bising. Untuk itu dapat dilakukan dengan cara :
 Mesin atau alat-alat yang menghasilkan bising diberikan cairan pelumas.
 Membuat tembok pemisah antara sumber bising dengan tempat kerja.
 Pekerja-pekerja diharapkan memakai pelindung telinga seperti ear muff / penutup telinga ; penutup telinga ini sangat baik, tetapi tidak nyaman dipakai oleh karena sangat kaku. Selain ear muff dapat pula memakai ear plug / penyumbat telinga, tetapi berefek terhadap bising yang tingkatnya rendah. Kadang-kadang dapat pula menggunakan woll-katun atau woll-sintetis untuk mencegah kebisingan, tetapi woll katun kurang bermamfaat untuk mencegah kebisingan daripada menggunakan woll sintetis.

5. PARAMETER KEBISINGAN
Dalam menentukan tipe/macam-macam bising mencakup parameter dasar dan turunan yaitu :
a. Parameter dasar
 Frekwensi, dinyatakan dalam hertz yaitu siklus perdetik.
 Tenaga bunyi dinyatakan dalam watt yaitu energi pancaran bunyi total.
 Tekanan bunyi, dinyatakan dalam mikropaskal (upa), yaitu intensitas sebagai akar dari kwadrat amplitude.
b. Parameter turunan
 Tingkat tekanan bunyi ( sound pressure level)
Dinyatakan dalam dB yang mana menyatakan tingkat dalam frekwensi yang berkaitan dengan tekanan bunyi. Kegunaan : untuk mengukur / menentukan pita frekwensi. Hubungan antara tekanan bunyi dengan tingkat tekanan bunyi dapat dilihat dalam skala decibel (dB) yaitu logaritma dari tekanan bunyi :
Sound pressure level (dB) =
P1 = Tekanan bunyi (upa)
Po = Tekanan bunyi dasar = 20 upa (yaitu 0,002 Pa)

 Tingkat bunyi
Sama dengan dB yang mana menunjukkan tingkat linieritas.
6. TAKARAN BISING (DOSE NOISE)
Yang dimaksud dengan takaran kebisingan adalah ekivalensi tingkat dB (dB equivanlent = dB Leq ) berkaitan dengan tingkat dB tetap yang dapat menghasilkan energi bunyi “A” lebih dari satu periode waktu.
Secara matematika tingkat bunyi dapat dinyatakan sebagai berikut :
Leq = 10 Log dt. dB

7. PERALATAN DAN METODOLOGI DALAM MENDETEKSI BISING
Peralatan dan metodologi yang dipergunakan dalam menetukan tingkat kebisingan sangat erat kaitannya. Untuk mencapai tujuan dan hasil yanh diharapkan perlu mengetahui peralatan yang berkaitan dalam menentukan kebisingan.
a. Peralatan.
Alat-alat yang dipakai dalam laboratorium dan kegunaan dalam survey kebisingan dapat dilihat daftar table dibawah ini .

Peralatan Penggunaan
Sound level meter dB ; dB and dB instantaneous fast (200 mm ) or slow (500 mm )

Sound level meter and octave band analysis As above with octave analysis 31,5 – 16 KHz
Impulse noise meter Peaks level as instantanous or average
Noise average meter Average noise for time specifield
Noise dose meter Noise dose relative to predetermined Leq dB

Tape recorder Recording of noise prior to analysis
Third octave analyzer Detailed analysis from meter or tape
Statistical distribution analyzer Divides noise into level classes
Real time analyzer Gives instantanous changes in spesies

b. Metodologi pengukuran bising
Maksud mengukur kebisingan adalah :
 Memperoleh data kebisingan dimana saja maupun diperusahaan.
 Untuk memngurangi tingkat kebisingan agar tidak menimbulkan gangguan.
Sejalan dengan tujuan pengukuran maka perlu menggunakan metodologi serta peralatan yang tepat. Alat utama dalam pengukuran kebisingan adalah sound level meter. Alat ini untuk mengukur kebisingan antara 30 – 130 dB dari frekwensi 20 – 20.000 Hz. Dalam kaitan analisa frekwensi dari suatu kebisingan biasanya dilakukan dengan alat “octave band analiser” untuk mengukur frekwensi menengah dari 31, 5, 63, 125, 250, 500, 1000, 2.000, 4.000, 8.000,16.000 dan 31.500 Hz. Informasi yang diperoleh dari hasil pengukuran akan dipakai dalam estimasi tingkat bising dan menentukan bilakah menggunakan alat proteksi bising. Selain itu frekwensi analiser dipakai untuk estimasi pengukuran kebisingan. Untuk keperluan analisa akan distribusi bising, biasanya memakai “tape recorder”. Hasil rekaman kebisingan nantinya akan dibawa ke laboratorium untuk dianalisa dengan menggunakan octave band analyzer seperti dB, dB (A), dB (A), leg ; dan data yang diperoleh akan dibuat distribusi statistic dengan menggunakan statistical distribution analyzer. Kadang kala data dari sound level meter tidak dapat diukur, untuk itu perlu dipikirkan suatu tehnik atau metode tertentu. Suatu contoh pengukuran kebisingan impulsive ; pengukuran bising ini sangat sulit oleh karena waktu kejadian sangat singkat. Untuk itu Bohs (1976) memberikan suatu analisa tehnik pengukuran sebagai berikut :


Catatan :
Penggunaan osciloskop sangat baik namun sangat sulit. Dalam melakukan survey kebisingan pada lingkungan pekerjaan, sering menggunakan tehnik medan. Ada 3 macam medan bumi yaitu :
 Medan dekat
 Medan bebas
 Medan semigaduh
Hanya dalam medan bebas dapat menggunakan “Hukum kebalikan kwadrat dan tingkat bunyi berkaitan dengan sumber bunyi.” Pada medan dekat dan medan semigaduh banyak faktor ikut berperan pula misalnya : permukaan cekung memberi pantulan bunyi.


F. VIBRASI
1. BENTUK VIBRASI
Vibrasi adalah getaran, dapat disebabkan oleh getaran udara atau getaran mekanis : misalnya mesin atau alat-alat mekanis lainnya. Oleh sebab itu vibrasi kita bedakan dalam 2 bentuk :
 Vibrasi karena getaran udara yang pengaruhnya terutama pada akustik
 Vibrasi karena getran mekanis mengakibatkan timbulnya resonansi / turut bergetarnya alat-alat tubuh dan berpengaruh terhadap alat-alat tubuh yang sifatnya mekanis pula.
 Penjalaran vibrasi udara dan efek yang timbul
Vibrasi udara oleh karena benda bergetar dan diteruskan melalui udara akan mencapai telinga. Getaran dengan frekwensi 1- 20 Hz tidak akan terjadi gangguan pengurangan pendengaran tetapi pada intensitas lebih dari 140 dB akan terjadi gangguan vestibular yaitu gangguan orientasi, kehilangan keseimbangan dan mual-mual. Akan timbul nyeri telinga, nyeri dada dan bisa terjadi getaran seluruh tubuh (Gierke dan Nixon, 1976)
 Penjalaran vibrasi mekanik dan efek yang timbul
Penjalaran vibrasi mekanik melalui sentuhan kontak dengan permukaan benda yang bergerak; sentuhan ini melalui daerah yang terlokalisasi (tool-hand vibration) atau mengenai seluruh tubuh (whole body vibration). Bentuk tool hand vibration merupakan bentuk yang terlazim di dalam proses pekerjaan.
Efek yang timbul :
Efek vibrasi terhadap tubuh tergantung besar kecilnya frekuensi yang mengenai tubuh.
Pada frekuensi 3-9 Hz : Akan timbul resonansi pada dada dan perut.
6-10 Hz : Dengan intensitas 0,6 g. tekanan darah, denyut jantung, pemakaian O2 dan volume perdenyut sedikit berubah. Pada intensitas 1,2 g terlihat banyak perubahan system peredaran darah.
10 Hz : Leher, kepala, pinggul, kesatuan otot dantulang akan beresonansi.
13-15 Hz ; Tenggorokan akan mengalami resonansi.
Pada frekwensi kurang dari 20 Hz , tonus otot akan meningkat; akibat kontraksi statis ini otot menjadi lemah, rasa tidak enak dan kurang ada perhatian. Pada frekwensi diatas 20 Hz otot-otot menjadi kendor dan frekwensi 30- 50 Hz digunakan dalam kedokteran olahraga untuk memulihkan otot-otot sesudah kontraksi luar biasa.

2. EFEK VIBRASI TERHADAP TANGAN
Alat-alat yang dipakai akan bergetar dan getaran tersebut disalurkan pada tangan. Getaran-getaran dalam waktu singkat tidak berpengaruh pada tangan sebab di dalam jangka waktu cukup lama akan menimbulkan kelainan pada tangan berupa :
 Kelainan pada persyarafan dan peredaran darah. Gejala kelainan ini mirip dengan fenomena Raynauld yaitu keadaan pucat dan biru dari anggota badan. Pada saat anggota badan kedinginan , tanpa ada penyumbatan pembuluh darah tepi dan tanpa kelainan-kelainan gizi. Fenomena Raynauld ini terjadi pada frekwensi 30 – 40 Hz.
 Kerusakan-kerusakan pada persendian tulang.

3. SIKAP TUBUH TERHADAP GERAKAN MEKANIS
Badan merupakan susunan elastis yang kompleks dengan tulang sebagai penyokong alat-alat dan landasan kekuatan serta kerja otot. Kerangka, alat-alat, urat dan otot memiliki sifat elastis yang bekerja secara serentak sebagai peredam dan penghaantar getaran. Pengaruh getaran terhadap tubuh ditentukan sekali oleh posisi tubuh atau sikap tubuh.

1 komentar:

Aanisa Mukhtaar mengatakan...

izin copy buat tugas yach... makasih,,, salam kenal...